<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="0.92">
<channel>
	<title>Wacana Didaktika Indonesia</title>
	<link>http://agussuwignyo.blogsome.com</link>
	<description>Catatan opini dan dialektika pendidikan di Indonesia oleh Agus Suwignyo</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Dec 2009 13:08:57 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>en</language>

	<item>
		<title>UN, Bendungan Terakhir</title>
		<description>	Oleh Agus Suwignyo
Sejauh ini, Ujian Nasional (UN) merupakan satu-satunya kebijakan tersisa yang menahan jebolnya bendungan keindonesiaan kita. 
	Dalam tahun-tahun terakhir, ruang publik terlalu hiruk-pikuk oleh implementasi teknis kebijakan (UN, sertifikasi guru, wacana komersialisasi BHP). Kita mengabaikan arah-besar politik pendidikan yang sedang berlangsung.
	Beberapa kebijakan dan undang-undang semakin jelas menunjukkan benang-merah ancaman ...</description>
		<link>http://agussuwignyo.blogsome.com/2009/12/21/un-bendungan-terakhir/</link>
	</item>
	<item>
		<title>Ilmuwan yang Guru, Masihkah Diperjuangkan?</title>
		<description>	Oleh Agus Suwignyo
	Sekitar 20 tahun lalu, cita-cita melahirkan ilmuwan guru dicetuskan melalui sebuah kebijakan dramatis, yakni menghapus Sekolah Pendidikan Guru.
	Sekolah kejuruan menengah untuk calon guru sekolah dasar ini dinilai tidak dapat lagi menjawab kebutuhan akan guru profesional. Guru SD disyaratkan berpendidikan setidaknya diploma dua, lebih disukai sarjana.
	Namun, persyaratan itu tidak ...</description>
		<link>http://agussuwignyo.blogsome.com/2009/12/21/ilmuwan-yang-guru-masihkah-diperjuangkan/</link>
	</item>
	<item>
		<title>Kritik Pendidikan</title>
		<description>	Oleh Agus Suwignyo
Meski mewarisi sistem kolonial, pendidikan kita dibangun dan dibesarkan dalam tradisi kritik nasionalis. Pendiri Sarekat Islam, Taman Siswa, Muhammadiyah, dan sekolah-sekolah yang dikategorikan ”liar” oleh pemerintah kolonial menyandarkan keberhasilan perjuangan politik pada ketangguhan kritik yang dibangun.
Kritik menjadi kekuatan perlawanan atas sistem pendidikan yang hegemonik, diskriminatif, dan hanya terpaku ...</description>
		<link>http://agussuwignyo.blogsome.com/2009/12/21/kritik-pendidikan/</link>
	</item>
	<item>
		<title>Pemerataan Pendidikan</title>
		<description>	Oleh Agus Suwignyo
	Kita patut bersyukur jika pendidikan dasar sembilan tahun dapat diakses gratis seluruh masyarakat seperti dinyatakan Sekretaris Jenderal Depdiknas (Kompas, 21/2/2009).
	Pemerataan pendidikan menjadi salah satu cita-cita bangsa. Berbagai undang-undang disahkan dan dana dialokasikan untuk cita-cita itu. Namun, berbagai pernyataan jaminan negara atas pendidikan itu tak lebih retorika.
	Menguatnya komitmen pemerintah ...</description>
		<link>http://agussuwignyo.blogsome.com/2009/03/05/pemerataan-pendidikan/</link>
	</item>
	<item>
		<title>Naskah RUU BHP 17-12-2008</title>
		<description>	‘Baca dulu, baru kritik,’ demikian kata Mendiknas menanggapi kritik dan tanggapan berbagai kalangan tentang Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) yang naskah finalnya telah disetujui DPR tanggal 17 Desember 2008.
	Bagaimana masyarakat bisa membaca naskah final RUU BHP jika naskah tersebut tidak disosialisasikan seluas-luasnya lewat berbagai wahana dan cara? 
	Seperti ...</description>
		<link>http://agussuwignyo.blogsome.com/2009/01/30/naskah-ruu-bhp-17-12-2008/</link>
	</item>
	<item>
		<title>UU BHP (Tidak) Diperlukan</title>
		<description>	Oleh Agus Suwignyo
	Di tengah meredupnya perhatian atas Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan, kita dientak dengan praktik penerbitan 1.400 ijazah ilegal oleh sebuah program studi di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta (Kompas, 12/1/2009).
	Sejauh ini, tidak ada pihak yang mengaitkan penerbitan ijazah ilegal itu dengan isu-isu dalam kontroversi UU BHP.
	Namun, jika direnungkan, ...</description>
		<link>http://agussuwignyo.blogsome.com/2009/01/30/uu-bhp-tidak-diperlukan/</link>
	</item>
	<item>
		<title>Gerakan Baru Mahasiswa</title>
		<description>	Oleh Agus Suwignyo
(Kompas, 22 Nopember 2008)
	Seolah antitesis keberhasilan monumental menggulingkan rezim Orde Baru satu dekade lalu, akhir-akhir ini mahasiswa Indonesia menampilkan perilaku agresif dalam bentuk tawuran.
	Dari Padang hingga Kupang, di Jakarta, di Makassar, di Jawa Timur, juga di Ternate, mahasiswa terlibat tawuran dengan kolega antarfakultas maupun antarinstitusi perguruan tinggi.
	Laporan Kompas ...</description>
		<link>http://agussuwignyo.blogsome.com/2008/12/22/gerakan-baru-mahasiswa/</link>
	</item>
	<item>
		<title>&#8220;Nasionalnya&#8221; Pendidikan Kita</title>
		<description>	Agus Suwignyo
	Tulisan mantan Mendikbud Daoed Joesoef tentang pentingnya perumusan kembali ”konsep idiil yang mendasari” sistem pendidikan kita (Kompas, 3/9/2008), disambut takzim fisikawan-etikawan Liek Wilardjo dengan menyebutnya ”wejangan Resi Seta yang turun dari pertapaan Pareanom” (Kompas, 11/9/2008).
	Pak Daoed menegaskan, ”Dengan predikat nasional, fungsi pendidikan jelas berdimensi nasional (kepentingan negara-bangsa) selain individual ...</description>
		<link>http://agussuwignyo.blogsome.com/2008/10/06/nasionalnya-pendidikan-kita/</link>
	</item>
	<item>
		<title>Ambruknya PTS Kita</title>
		<description>	Agus Suwignyo
	Di tengah gencarnya ikhtiar menjawab tantangan global, banyak perguruan tinggi swasta di Indonesia yang nyaris ambruk.
	Berita Kompas dua pekan lalu menyebutkan, hanya 50 persen dari 2.756 PTS di Indonesia saat ini yang dinyatakan ”sehat” dalam hal jumlah mahasiswa, rasio dosen- mahasiswa, dan ketersediaan fasilitas. Di Jawa Tengah 174 dari ...</description>
		<link>http://agussuwignyo.blogsome.com/2008/08/29/ambruknya-pts-kita/</link>
	</item>
	<item>
		<title>Kembali ke Tengah</title>
		<description>	Oleh Agus Suwignyo
	Ujian Nasional 2008 telah usai. Namun kontroversi tentang UN tetap mengendap bagai api dalam sekam.
	Perlu dicatat, 2008 merupakan tahun kelam sejarah evaluasi pembelajaran sekolah di Indonesia karena penangkapan guru-guru oleh polisi. Drama penangkapan itu membuat kontroversi ujian nasional (UN) belum pernah sedahsyat tahun ini.
	Selain itu, yang terjadi sebenarnya ...</description>
		<link>http://agussuwignyo.blogsome.com/2008/07/15/kembali-ke-tengah/</link>
	</item>
</channel>
</rss>
