Ini acara bedah buku Dasar-Dasar Intelektualitas. Yang Terlupakan dalam Hubungan Universitas dan Dunia Kerja (April 2007, Pustaka Pelajar Yogyakarta).
Alur pemikirannya begini:
Secara umum, persoalan pengangguran lulusan Perguruan Tinggi dikaji dari sisi investasi, pertumbuhan ekonomi, peningkatan jumlah penduduk usia produktif, dan ketersediaan lapangan kerja. Jarang dijumpai, kajian atas pengangguran dikaitkan secara mendalam dengan proses dan kualitas pendidikan yang telah dijalani lulusan. Situasi ini membuat ulasan persoalan pengangguran melalui kajian atas proses dan kualitas pendidikan, relevan.
Buku Dasar-Dasar Intelektualitas. Yang Terlupakan dalam Hubungan Universitas dan Dunia Kerja (April 2007, Pustaka Pelajar Yogyakarta) kira-kira dilandasi pertimbangan relevansi tersebut. Hampir setiap tahun selama sepuluhan tahun belakangan ini, bursa-bursa tenaga kerja dipadati lulusan Perguruan Tinggi bergelar sarjana. Banyak yang beruntung dan tidak menemui kesulitan berarti dalam memeroleh pekerjaan. Meskipun demikian, angka pengangguran sarjana tidak juga menurun.
Situasi pasar kerja kita memang sedang payah. Namun, pengamatan lebih dekat atas kualitas sarjana meyakinkan kita, situasi payah pasar kerja bukan faktor tunggal pengangguran terdidik. Ada persoalan mutu pada banyak lulusan Perguruan Tinggi kita dewasa ini. Seperti apa persoalan itu? Bagaimana sebaiknya persoalan diatasi dalam proses pengelolaan program studi pendidikan tinggi?
Di sisi lain, fenomena braindrain dijumpai di sana-sini. Putera-puteri Indonesia yang masuk lapis tipis sarjana dengan kualitas intelektual sangat memadai, memilih bekerja di luar Indonesia. Alasan umumnya, dua. Pertama, standar gaji di Indonesia relatif rendah dibandingkan di sejumlah negara lain. Kedua, fasilitas, infrastruktur dan skema-terprogram pengembangan ilmu di Indonesia tergolong minim dibandingkan di negara lain, misalnya ketersediaan peralatan laboratorium mutakhir dan jurnal ilmiah.
Akibatnya, ada opportunity lost. Indonesia kehilangan potensi sumbangan langsung sumber daya manusia yang justru sedang sangat dibutuhkan saat ini. Situasi pasar kerja Indonesia yang secara umum tidak kondusif, membuat sarjana-sarjana yang tersisa adalah mereka yang tidak punya pilihan dan dalam aspek tertentu mutu intelektualitasnya diragukan. Benarkah demikian?
Buku ini hanyalah pancingan untuk masuk ke diskusi sebuah persoalan lebih luas, yakni pengangguran sarjana, fenomena braindrain dan mutu pengelolaan program studi di Perguruan Tinggi.
Topik dan Pembicara
Diskusi bedah buku ini difokuskan pada tiga topik sebagai berikut:
1. Situasi pasar kerja dan fenomena braindrain: Opportunity lost pemanfaatan Sumber Daya Manusia kolektif Pembicara: Dr. R. Maryatmo (FE, Universitas Atma Jaya Yogyakarta)
2. Mutu lulusan dan proses belajar mahasiswa: Potret keilmuwanan masa kini? Pembicara: Drs. Lukas Ispandriarno, M.A. (FISIP, Universitas Atma Jaya Yogyakarta)
3. Kesiapan lulusan di dunia kerja: Sekilas potret alumni UAJY. Pembicara: Athanasius Sumardi, ST (HR-GA Manager PT RICHTEX Garmindo Semarang)
4. Pengangguran terdidik: Reorientasi apa perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu lulusan dan pemberdayaannya sebagai SDM kolektif? Pembicara: Prof. Dr. Suwarsih Madya (Universitas Negeri Yogyakarta; Mantan Kabiro Kerjasama Luar Negeri, Depdiknas)
Moderator: Yudi Perbawaningsih, M.Si.
Waktu dan Tempat Pelaksanaan:
Tanggal : Jumat, 26 Mei 2007, pk. 09.00-12.00
Tempat : Ruang Pascasarjana, Kampus 3 UAJY, Lt. 3
Jl. Babarsari, Tambakbayan, Yogyakarta
