Artikel ReferensiMay 21, 2007 6:49 am

Ini acara bedah buku Dasar-Dasar Intelektualitas. Yang Terlupakan dalam Hubungan Universitas dan Dunia Kerja (April 2007, Pustaka Pelajar Yogyakarta).

Alur pemikirannya begini:
Secara umum, persoalan pengangguran lulusan Perguruan Tinggi dikaji dari sisi investasi, pertumbuhan ekonomi, peningkatan jumlah penduduk usia produktif, dan ketersediaan lapangan kerja. Jarang dijumpai, kajian atas pengangguran dikaitkan secara mendalam dengan proses dan kualitas pendidikan yang telah dijalani lulusan. Situasi ini membuat ulasan persoalan pengangguran melalui kajian atas proses dan kualitas pendidikan, relevan.

Buku Dasar-Dasar Intelektualitas. Yang Terlupakan dalam Hubungan Universitas dan Dunia Kerja (April 2007, Pustaka Pelajar Yogyakarta) kira-kira dilandasi pertimbangan relevansi tersebut. (more…)

Opini & ArtikelMay 10, 2007 4:10 am

oleh Agus Suwignyo

Setelah Visi Indonesia 2030 dicanangkan, pembenahan kebijakan dan praktik pendidikan nasional harus diprioritaskan.

Perangkat hukum kuat mendasari komitmen dan wacana. UU Sisdiknas, UU Guru dan Dosen, serta segala peraturan turunan dihasilkan dengan mahal dan penuh pengharapan.

Melalui Visi 2030, pemerintah menegaskan, Indonesia akan menjadi negara sejahtera urutan kelima dunia. Pendapatan per kapita 18.000 dollar AS dengan produktivitas, kemandirian, dan daya saing tinggi (Kompas, 23/3/2007). Realisasinya kini dinantikan.

Seberapa jauh proyeksi kesejahteraan ekonomi sebagai tekanan Visi 2030 akan mencerminkan peningkatan derajat kualitas hidup (well-being) manusia Indonesia seluruhnya? Politik-kebijakan pendidikan seperti apa yang sejalan semangat itu?

Sejumlah kalangan menilai visi itu mimpi. Hitung-hitungan potensi riil pertumbuhan ekonomi saat ini jauh dari target yang diangankan (Kompas, 2/4/2007). Selain itu, aroma teknokratis, visi menciptakan pertumbuhan ekonomi dengan dasar keropos ala Orde Baru (Kompas, 12/4/2007).

Tulisan ini hendak menegaskan, entah dianggap ilusif atau realistis, Visi 2030 harus dijadikan pancingan bertindak menuju perbaikan kualitas hidup.
(more…)

Opini & Artikel 4:07 am

oleh Agus Suwignyo

Melalui artikel “Simpul Perubahan Habitus” (Kompas, 23/3/2007), Haryatmoko mengangankan praktik pendidikan yang mampu menciptakan “lingkungan budaya” guna mengubah habitus (kebiasaan) buruk, korup, mentalitas jalan pintas, dan politik uang.

“Perubahan habitus mengandaikan pendidikan yang membuat banyak anggota masyarakat mengadopsi kesadaran refleksif yang menempa kemampuan untuk membuka simpul-simpul pengikat praktik-praktik sosial lama,” tulisnya.

Gagasan itu memancarkan optimisme. Pertama, pengikisan kebiasaan, yang secara kolektif telah membudaya tetapi buruk menurut norma masyarakat demokrasi, dilakukan melalui penciptaan habitus baru yang bertumpu kesadaran refleksif individu.

Kedua, penciptaan sikap-mental baru itu hendak disandarkan pada proses pendidikan, yang dalam beberapa segi praktik formalnya di Indonesia saat ini justru masuk bagian habitus lama yang harus dirombak.

Pendekatan apa dalam praktik pendidikan yang dapat dijadikan pintu masuk penumbuhan kesadaran refleksif.
(more…)