Oleh Agus Suwignyo
Meskipun tujuan pengubahan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau IKIP menjadi universitas dinilai tidak tercapai (Kompas, 7/1/2006) dan perlu dikaji ulang (Kompas, 3/1/2006), posisi Fakultas KIP di universitas sebenarnya strategis bagi pengembangan keilmuan mahasiswa dan profesionalitas dosen FKIP.
Pertama, mahasiswa FKIP dapat mempelajari bidang ilmunya dengan intensitas dan tingkat kemutakhiran setara mahasiswa non-FKIP.
Kedua, interaksi ilmiah mahasiswa memberi peluang mahasiswa FKIP mengembangkan diri dalam profil keilmuan sekokoh mahasiswa non-FKIP. Kedua hal itu diharapkan membesarkan kebanggaan mahasiswa FKIP yang input competence-nya dianggap rendah (Kompas, 21/2/2006).
Ketiga, dosen FKIP bisa bersinergi dengan kolega non-FKIP dalam penelitian pengajaran.
Potensi strategis FKIP bisa disebut tujuan di atas kertas. Hingga kini sulit ditemukan apakah pernah ada penilaian mengukur tercapai-tidaknya tujuan tadi. Kalaupun belum tercapai, relevan mencermati apakah tujuan pengubahan IKIP ke universitas (pernah) benar-benar diimplementasikan. Refleksi ini penting agar keprihatinan atas mutu pendidikan calon guru tidak terdengar hanya seperti ratapan.
Ahistoris
Upaya mengembangkan universitas bekas IKIP sering didasari visi ahistoris. Misalnya, pimpinan sebuah universitas bekas IKIP mengangankan institusinya menjadi research university sebagaimana Universitas Indonesia mencanangkan visinya. Angan-angan ini kurang relevan dan menambah persoalan pembiayaan dan manajerial. Dharma penelitian tetap harus dimajukan di universitas bekas IKIP, tetapi itu demi pembaruan pengajaran.
Visi ahistoris mengingkari keguruan sebagai akar tradisi ilmiah universitas bekas IKIP yang harus diperkuat sebagai kekhasan. Visi itu menjepit posisi strategis FKIP. Di satu sisi, FKIP ditarik pada orientasi pengembangan ilmu murni sehingga tercerabut dari tradisi keguruannya. Di sisi lain, FKIP dibiarkan berkembang sendiri tanpa kebijakan di tingkat universitas untuk menjembatani sinergi FKIP dan non-FKIP.
Dengan kata lain, upaya membenahi mutu akademik FKIP tidak cukup hanya dengan menambah muatan dan memperbarui ilmu kependidikan (Kompas, 4/1/2006; 7/1/2006; 22/2/2006), tetapi juga memikirkan pengembangan sinergi FKIP dengan non-FKIP di universitas.
Model sinergi pendidikan calon guru dengan calon-calon ahli lain pernah ada dalam sejarah pendidikan guru di Tanah Air. Pada zaman Belanda, Sekolah Guru Pribumi di Makassar dan Bukittinggi pernah sekaligus menjadi sekolah calon pegawai pemerintah (ambtenaar).
Dalam buku hari lahir ke-35 Sekolah Guru Pribumi di Bukittinggi tahun 1908 (halaman 34-36) digambarkan bagaimana calon guru Sekolah Rendah dididik bersama calon ambtenaar:
”Tentangan pengadjaran moerid-moerid jang akan mendjadi goeroe dan akan mendjadi ambtenaar tiadalah perbedaannja; mereka itoe doedoek bertjampur dalam seboeah-seboeah klas, dan pengadjarannja sama. Akan tetapi moerid bakal ambtenaar lamanja bersekolah limatahoen, dan moerid bakal goeroe enam tahoen: pada tahoen jang keenam mereka itoe mengadjar disekolah-Paripat (Externenschool).
… dan moerid jang akan mendjadi goeroe setelah 6 tahoen, wadjib dioedji kepandaiannja oleh toean Inspecteur dihadapan Schoolcommissie.”
Dipertahankan
Meski pengubahannya menjadi universitas berpotensi strategis, IKIP yang masih ada kini sebaiknya dipertahankan sebagai IKIP. Arus global perubahan di negeri kita melahirkan generasi baru peserta didik yang membutuhkan guru dengan karakter pedagogis berbeda-beda.
Tradisi keguruan IKIP diharapkan mendidik guru ilmuwan. Proses penyemaian di FKIP membentuk ilmuwan guru. Amat dinantikan FKIP dan IKIP meluluskan guru bermutu masing-masing dengan karakter pedagogisnya.
Agus Suwignyo Alumnus Faculteit der Pedagogische Onderwijskundige Wetenschappen, Universitas Amsterdam
(Kompas, 2 Maret 2006)

alumni FKIP yang dianggap level II sebaiknya harus mampu menunjukkan eksistensi dirinya berbekal skill yang dimiliki toh pada akhirnya masalah edukasi adalah masalah formal dan pada akhirnya ketika terjun masyarkat maupun dalam aktualisasinya banyak seorang alumni FKIP yang bisa lebih maju dari alumni university. yang lain. keep spirit alumni FKIP………. viva FKIP!!!!!!!!
Comment by erik kuswibowo — April 17, 2006 @ 1:09 am