DUGAAN keterlibatan korupsi beberapa anggota Komisi Pemilihan Umum yang kebetulan dosen perguruan tinggi disebut wartawan Kompas Budiarto Shambazy sebagai “merendahkan integritas keilmuan di perguruan tinggi” (Kompas, 23/4/2005).

Para akademisi seharusnya menjalankan peran sebagai konseptor substansi pemilu, tidak perlu “masuk ranah teknis dan bisnis yang hampir-hampir tidak ada hubungannya dengan kepakaran akademisi mengenai pelaksanaan pemilu”.

Tulisan ini tidak bermaksud membahas kasus korupsi di KPU. Namun, butir peran fungsional akademisi yang disinggung Budiarto mengingatkan diskusi menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kelompok mahasiswa di Yogyakarta tahun 2002. Saat itu diperdebatkan, mengapa banyak kaum terpelajar dan aktivis yang semula kritis, jernih, dan lugas terhadap korupsi justru ikut korup setelah masuk sistem yang memberi mereka peluang dan legitimasi formal memutus rantai korupsi itu? Apakah perubahan sikap dan perilaku ini dipengaruhi habitat atau ekosistem pendidikan yang telah “melahirkan” dan “membesarkan” kaum terpelajar dan aktivis itu? (more…)