Problematika Pendidikan Indonesia
Tanggapan dari Kusuma Andrianto, untuk Agus Suwignyo dan Marsel Ruben Payong
TULISAN Agus Suwignyo di Kompas (8 April 2004) menggarisbawahi urgensi dan relevansi sistem pendidikan Indonesia, terutama dari sudut peserta didik. Suwignyo menyimpulkan bahwa signalling yang ingin disampaikan oleh sektor industri di Indonesia adalah betapa pentingnya karakter personal dan interpersonal lulusan perguruan tinggi dalam proses rekrutmen.
SELANJUTNYA, benang merah yang bisa ditarik dari tulisan itu adalah pentingnya kerja sama antara perusahaan dan lembaga pendidikan, sebagai penyedia input sumber daya manusia (SDM). Tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Suwignyo, Marsel Ruben Payong (Kompas, 19 April 2004) menggarisbawahi hubungan signalling perguruan tinggi (PT) dengan dunia industri, terutama dari kesiapan dan relevansi kurikulum PT.
Dalam ilmu ekonomi, kita dengan mudah menemukan apa yang ingin disampaikan oleh Suwignyo dan Payong dalam literatur information economics (ekonomi informasi) dan proses signalling. Sementara itu, persoalan yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar interaksi pasar antara PT dan industri. Dengan kata lain, baik Suwignyo maupun Payong telah mereduksi permasalahan menjadi sebuah kepingan puzzle, tanpa memberikan pemahaman keseluruhan alias the big picture akan persoalan pendidikan Indonesia.
Ini tidak mengherankan karena kecenderungan manusia adalah apabila kita memperhatikan ’pohon’, kita tidak melihat ’hutan’ secara keseluruhan. Sebelum kesalahpahaman semakin berlarut-larut, tulisan ini mengajak pembaca untuk melihat problematika penyelenggaraan pendidikan Indonesia dalam perspektif yang lebih jernih dan menyeluruh.
Pendidikan dasar
Proses pembentukan SDM- sebagian kalangan menyebutnya human capital-adalah meliputi seluruh kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan pribadi individu, ditinjau dari banyak segi, dari sejak usia dini hingga terjun dalam dunia profesional. Jadi, ini mencakup sekolah, baik formal maupun informal, pelatihan, on-the-job training, dan semua kegiatan lain yang bertujuan meningkatkan pengetahuan.
Akan kaitannya dengan pemberdayaan SDM tersebut, Suwignyo menekankan signifikansi penilaian kemampuan dan kreativitas individu sebelum memasuki dunia profesional, sementara Payong berargumen bahwa PT seyogianya lebih berani membuat terobosan mata kuliah baru yang lebih relevan bagi dunia kerja. Namun, sayangnya, saran kedua penulis bahwa proses ini dapat dilakukan pada tahap pendidikan tingkat lanjut sesungguhnya tidak tepat. Ini sudah pasti sangat terlambat. Pembentukan SDM justru harus dilakukan sejak usia dini ketika siswa masih ’lentur’. Apabila proses peningkatan SDM dipaksakan pada tingkat lanjut, katakanlah PT, akibat yang ditimbulkan justru negatif. Ibarat membentuk tembikar tanah liat yang telah mulai mengering dan mengeras.
Seorang rekan mahasiswa di Inggris pernah melemparkan lelucon bahwa kuliah di PT luar negeri lebih “mudah” dan setelah lulus juga lebih cepat untuk mendapatkan lapangan pekerjaan. Adapun kuliah di PT dalam negeri jauh lebih “sulit” karena terlalu banyak mata kuliah yang tidak jelas relevansinya. Celakanya, setelah lulus pun akhirnya jadi pengangguran. Saat mendengar seloroh itu, seketika saya teringat kejadian beberapa tahun yang lalu sewaktu tanpa sengaja mengamati materi ujian seorang keponakan yang masih duduk di sekolah dasar (SD). Saya terkejut bukan kepalang! Betapa tidak? Pertanyaan yang diajukan benar-benar sulit, dan terus terang saya sangsi apakah seorang mahasiswa sanggup menjawabnya.
Dari kedua “kasus” pendidikan PT dan SD di atas, kesimpulan yang dapat kita ambil adalah pola pendidikan tinggi di Indonesia meneruskan “tradisi” pendidikan SD yang sarat dengan muatan, namun sedikit relevansi. Mengapa ini semua bisa terjadi? Jawabannya terletak pada kesalahpahaman pengelola pendidikan formal yang semata menekankan pentingnya kelulusan dan muatan pengajaran. Tidak jarang akhirnya siswa terpaksa mengikuti pelajaran tambahan, baik yang diselenggarakan oleh sekolah yang bersangkutan maupun lembaga lain, semata-mata untuk mengejar target beban dan kelulusan.
Celakanya, sebagian besar masyarakat tidak punya banyak pilihan selain memercayakan pendidikan siswa semata kepada pendidikan formal. Sedemikian parahnya “beban” yang ditanggung peserta didik sehingga sebuah sekolah taman kanak-kanak di Jakarta menjalankan prosedur tes psikologi bagi calon siswa! (Kompas, 18 April 2004).
Pendidikan dan politik
Banyak kekeliruan yang seharusnya dapat dielakkan dalam pengelolaan pendidikan. Yang perlu diingat adalah bahwa kontrol sosial terhadap pendidikan formal adalah hal mutlak dan harus selalu diutamakan. Pendidikan di Indonesia terlalu berharga untuk semata diserahkan mentah-mentah kepada para ’pendidik’ dan birokrat, apalagi para politisi pembuat undang-undang (UU) pendidikan. Di saat hiruk-pikuk kampanye pemilu, siapa yang peduli dengan pengembangan pendidikan? Partai mana yang berani “menjual” platform pendidikan? Berapa anggaran pendidikan partai politik apabila mereka menang pemilu?
Pendidikan selalu merupakan hal yang terabaikan dalam politik sehingga akhirnya tak heran apabila tak ada satu partai pun yang peduli bahwa kegiatan belajar mengajar di SMPN 56 Jakarta Selatan digusur sehingga siswa terpaksa belajar di luar (Kompas, 19 April 2004).
Seberapa parahnya persoalan pendidikan Indonesia terungkap jelas dalam artikel, UAN Apa yang Kau Cari? (Kompas, 17 April 2004). Tulisan ini jelas- jelas menyatakan bahwa kurikulum dan sasaran pendidikan Indonesia tidak mengalami perubahan berarti sejak lebih dari setengah abad yang lalu.
Pada saat itu kurikulum Indonesia didesain meniru pendidikan Belanda, yang tujuannya tidak lain adalah mempersiapkan lulusan untuk bekerja di kantor-kantor VOC, menjadi pegawai kompeni yang dianggap berstatus nomor wahid. Kebanyakan akhirnya beralih menjadi pegawai negeri setelah Indonesia merdeka dan kompeni hengkang. Pertanyaannya sekarang adalah apakah ini masih relevan?
Karakter sebagai fitrah
Penyelenggara pendidikan di negara maju memahami persis bahwa fitrah manusia memang berbeda-beda, sebagaimana halnya sifat alam. Penghargaan akan talenta dan keunikan SDM dihargai sedemikian tinggi sehingga tidak heran apabila atlet atau penyanyi memiliki penghasilan berkali lipat lebih besar daripada bankir, birokrat, apalagi politisi.
Ibarat tanaman tropis tidak dapat tumbuh baik di iklim dengan empat musim, manusia juga memiliki berbagai karakter sehingga tidak dapat disamaratakan. Tujuan pendidikan bukanlah menyeragamkan kemampuan murid hingga memahami seluruh muatan pendidikan dan lulus ujian, melainkan mengidentifikasi dan mengembangkan karakter-karakter unggul yang dimiliki peserta didik. Sudah saatnya kita memperbaiki kurikulum pendidikan Indonesia-yang tidak banyak berubah sejak setengah abad yang lalu-untuk lebih menghargai fitrah manusia. Tidak semua orang ingin menjadi pegawai negeri, bukan?
Ada fenomena menarik belakangan ini sehubungan dengan semakin merosotnya nilai dollar dan semakin berlarut-larutnya kasus pelanggaran UU antimonopoli program aplikasi komputer. Bila terbukti Windows menyalahi UU antimonopoli di Eropa, bisa jadi predikat orang terkaya nomor satu akan berpindah dari pimpinan Microsoft, pembuat sistem operasi tersebut, kepada bos IKEA, seorang “tukang kayu”. Di negara kita mungkin tidak begitu terkenal, tetapi cabang IKEA sudah tersebar di mana-mana di seluruh dunia, padahal sumber utama kayunya berasal dari hutan tropis Indonesia.
Nah, sekarang coba kita berandai-andai. Kalau seorang “tukang-kayu” saja bisa jadi kandidat orang nomor satu terkaya, padahal bahan utamanya-physical capital-berasal dari negara kita. Bisa dibayangkan betapa besarnya potensi yang dimiliki Indonesia apabila human capital-nya diolah dengan benar.
Kusuma Andrianto Mahasiswa PhD, Peneliti Human Capital Leeds University Business School, UK
Dimuat di Kompas, Jumat 30 April 2004

Kesalahan terbesar kita adalah menganggap bahwa lembaga pendidikan formal adalah satu-satunya lembaga yang wajib atau seperti Anda katakan, masyarakat tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan anak mereka kepada lembaga yang satu ini. Padahal jika melihat instrumen pendidikan secara lebih luas, kita akan menemukan bahwa lembaga pendidikan formal (yang seringkali tidak relevan itu) hanyalah salah satu bagian dari instrumen pendidikan yang dapat diterima oleh anak sejak usia dini.
Selebihnya ada banyak lembaga atau institusi non formal yang justru atau juga memegang peranan yang sangat penting seperti KELUARGA, ISTITUSI AGAMA, DUNIA BISNIS, LINGKAR PERGAULAN ANAK (CLUB), “INTERNET”, dan lain sebagainya yang justru ada di dalam lingkungan pergaulan anak-anak yang tidak dikembangkan secara maksimal dalam membentuk SDM anak-anak kita sejak usia agar daat tumbuh secara kontekstual seiring dengan tuntutan jaman. Apalagi memang kita banyak memiliki budaya yang kontraproduktif terhadap usaha pengembangan anak-anak kita agar bertumbuh secara maksimal menjadi pribadi yang kokoh dan tangguh.
Sayang sekali pak!
amos
Comment by amos/staff ATARP - USAID — August 12, 2005 @ 10:30 am
This man is so corrupt on a personal level, I don’t think he’s qualified to speak about his country needs. I dare him to challenge my assertion
Comment by Stevie — August 16, 2005 @ 10:23 am
Saya sangat setuju dengan pendapatnya Mas Kusuma Andrianto.Saya memiliki usul tulisan beliau suapay dimuat di Media Cetak seprti Kompas, Republika, supaya semua orang tahu. Terima Kasih.
Comment by Yayat Sudrajat, S.Pd — October 3, 2005 @ 1:05 am
saya mahasiswa teknologi pendidikan universitas negeri malang, kapan bisa ketemu bapak n diskusi
Comment by tohirin hasan — February 26, 2006 @ 1:56 pm
saya setuju dengan pendapat mas kusuma.terima kasih
Comment by dita wahyuni — May 18, 2006 @ 2:17 pm
penting untuk merevitalisasi karakter pendidikan masyarakat bangsa dalam formulasi yang berkearifan.
Comment by Muhammad Yahya — June 8, 2006 @ 6:10 pm
I do agree with ur opinion because the reality problem in our country can be solved if the goverments attent and known it, so it better to announce it the advertisment ito announce those problems
Comment by haris — October 27, 2008 @ 9:29 am
Pendidikan di Indonesia, memang cukup menyedihkan. Saya sependapat dengan anda, tentang: Sulitnya mengikuti pendidikan di Indonesia di banding dengan kemudahan pendidikan di luar negeri,dengan alasan banyak mata pelajaran yang dibebankan tetapi tidak relevan dengan spesifikasi keilmuan yang dituntut, mubajiiir !!! karena tidak dapat diimpelementasikan dalam kehiduan sehari-harinya. Kalau sekarang ini banyak orang terutama anak muda berlomba-lomba melanjutkan pendidikannya ke jurusan pendidikan, karena iming-iming dan mengimpikan gaji guru yang lebih besar nanti bila dibandingkan dengan PNS lain, sebaliknya banyak alumni pendidikan guru di instansi kami yang tidak mengajar karena sangat-sangat menyadari hal tersebut dan memilih menjadi pegawai administrasi, juga disebabkan guru tak lebih mengajar kebohongan kepada muridnya karena banyaknya muatan mata pelajaran yang tidak dapat dipakai tersebut, ini nyata bukan kebohongan !!!. Selanjutnya begitu banyaknya mata pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa, sehingga saya menangis di dalam hati, melihat anak-anak bangsa yang dipaksa untuk lebih giat belajar, dengan pergi sekolah terbungkuk-bungkuk mengendong beban buku yang lebih berat dari pendaki gunung, sama dengan kledai memilkul beban yang tidak memberikan manfaat apa-apa.
Berikut kisah dan pengalaman kami yang ketika tidak dapat menyelesaikan PR matematika anak di rumah, padahal waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. akhirnya saya suruh mendatangi dan bertanya kepada keluarga yang bapak dan istrinya sama-sama kepala SD, dengan pengalaman 30 tahun mengajar, mereka selama tiga jam juga tak mampu menyelesaikan soal tersebut. Akhirnya anaknya yang lulusan Fakultas Tekni PT, mencarikan solusinya dengan menawarkan rumus yang diajarkan di PT, padahal jelas-jelas meskipun hasilnya betul tetapi jalan (penjabarannya) pasti salah dan akan disalahkan oleh gurunya di sekolah, dan nilai anak saya selama mengikuti pelajaran tersebut tidak pernah lebih besar dari 2. namun karena saya sudah biasa memberikan soal matematika di PT walaupun saya bukan dosen ttp hanya PNS adm. karena dosen tidak datang, biasanya soal mid atau semesterannya saya ambil dari soal tahun lalu yang saya rekayasa, maka saya dapat memahami kunci menyelesaikan hampir seluruh soal matematika dengan rumusan yang paling mudah dan ini dengan keyakinan saya terapkan terus sampai mahir, dan… alhamdulillah ketika saat ujian anak saya berada di posisi rangking 3 di sekolahnya, dan membuat melongo kepseknya.Oleh sebab itu berapapun hebatnya, betapapun beratnya matematika yang membuat anak-anak kita stress, yang memang tidak relevan tersebut dikiati dengan rumus lama sangat mudah saja yang memang jalannya salah atau berbeda jauh dengan yang diajarkan tetapi hasil akhirnya betul!!!, mengapa ? sisi lain karena soal-soal yang dibuat sekarang dalam bentuk tulisan 10-100 soal dengan pilihan ganda dan tidak memerlukan jalan penyelesaiannya tetapi hasil akhir !!!. hal-hal yang memberatkan tersebut hendaknya menjadi perhatian serius para petinggi pendidikan. Pasalnya bak pedagang mengangkat mentri atau guru pakai taksir bukan mencari yang asli dan sejati !!! tetapi hanya pintar membuat masalah, pintar menjual, merugikan anak cucunya, masalah pendidikan seabrek-abrek di depan mata, kalau diangkat media dan dipersalahkan pasti dia akan menyalahkan orang lain, sehingga tidak heran mereka hanya menghasilkan generasi penghianat dan koruptor. trima kasih
Comment by Thom — November 12, 2008 @ 4:17 am