JIKA pelaku berbagai peledakan bom itu lulusan sekolah khusus teroris, maka lembaga pendidikan mereka berhasil menjalankan visi-misinya: mendidik orang menjadi teroris andal, setia pada tujuan. Saya tidak berbicara baik- buruk, benar-salah, atau mulia-jahatnya tindakan teroris dan cara yang dipilih untuk mencapai tujuan. Saya menilik bagaimana visi-misi pendidikan diimplementasikan sehingga peserta didik menghidupi dan menjalankannya secara total dan all out.
Yang jelas, “proses pendidikan” di sekolah teroris telah menumbuhkan keberanian dan kemauan bertindak lulusannya, yang konyol di mata kita, tetapi merupakan indikator sukses guru-gurunya. Pembaiatan menjadi semacam wisuda untuk mengukuhkan keberanian dan kemauan itu.
Lembaga-lembaga pendidikan formal kita, dan lembaga pendidikan umum di mana pun, jelas tidak dimaksudkan untuk mendidik teroris. Lembaga-lembaga pendidikan kita memiliki tujuan filsafati luhur.
Ada proses dan pengukuran. Ada pengukuhan janji dalam wisuda. Namun, tidak sedikit lulusan dunia pendidikan kita yang tidak menunjukkan keberanian dan kemauan bertindak menurut tujuan dan nilai-nilai di mana mereka pernah dididik. Dalam arti terbatas ini, sebenarnya lembaga-lembaga pendidikan formal telah gagal menjalankan visi-misinya. Ironisnya, justru kegagalan inilah membedakannya dari pendidikan ala teroris.
Misi dasar pendidikan
Kita telah mematri pendidikan mengemban misi penyadaran (conscientitation) atau istilah-istilah serupa lain, seperti pemerdekaan dan pemanusiaan. Ini misi dasar mulia. Pendidikan harus membuat orang kian sadar akan jati diri dan asal-usul, dunia dan lingkungan alam-sosial, serta tanggung jawabnya. Pendek kata, pendidikan dimaksudkan membawa orang pada kesadaran insani.
Dalam konteks ini, kemampuan memilih dikedepankan. Artinya, apa pun keputusan sikap seseorang dalam kaitan dengan kesadaran jati diri dan lain-lain, asal dipilih sendiri secara sadar, adalah wujud keberhasilan pendidikan. Dalam bahasa Daoed Joesoef (Tantangan bagi Individu Otonom, Kompas, 24/8/04), pendidikan harus mendorong individu menjadi lebih otonom, “yang tidak berjiwa bebek, mampu berpikir mandiri, dan bertindak sendiri,…berkat kekuatan nalar pribadi dan semangatnya yang kritis”. Otonom untuk menentukan sikap dan tindakan atas dasar pertimbangan.
Masalahnya, sejauh mana dapat dijamin (dan oleh siapa) bahwa pilihan sikap, perilaku, atau paham individu-individu otonom hasil proses pendidikan itu in favor dengan tujuan pendidikan yang telah dijalani? Bagaimana jika oleh kesadaran yang tumbuh melalui proses pendidikan, orang lalu memilih untuk, misalnya, menjadi teroris? Seperti diketahui, mereka yang dicurigai telah melakukan aksi berbagai teror bom bukan orang-orang berpendidikan formal rendah.
Ideologisasi
Di balik misi penyadaran yang diembannya, kita melihat ruang kosong praksis dunia pendidikan formal. Jika pendidikan memanusiakan, mengapa kian besar gejala deviasi tindakan mereka yang terdidik?
Dalam dialog penajaman visi-misi calon presiden dan wakil presiden, dan disiarkan televisi, Prof Safii Ma’arief mengungkap gejala itu sebagai kesenjangan kesadaran wacana dan kesadaran perbuatan. Kesenjangan ini harus dikikis dengan mengisi ruang kosong yang timbul dari misi penyadaran pendidikan.
Ruang kosong itu adalah tidak adanya ideologisasi tujuan pendidikan. Artinya, tidak ada raison d’etre yang dipahamkan kepada peserta didik untuk menumbuhkan keyakinan, bahwa tujuan pendidikan harus dicapai demi suatu ideal yang dianggap lebih tinggi dan luas. Ideologisasi menjadikan tujuan pendidikan sebagai semangat dasar proses.
Sejauh ini tujuan pendidikan kita ada karena tuntutan normatif sosial. Ia tidak tumbuh bersemai dalam diri insan peserta didik, menjadi bagian tujuan hidupnya. Proses pendidikan kita tidak membuat peserta didik memahami ideal di balik tujuan pendidikan.
Tujuan dicapai demi tujuan itu sendiri, sehingga kesediaan berkorban dalam perjuangan mendekati ideal amatlah kecil, karena jiwa mereka yang terdidik tidak disatukan dengan tujuan pendidikan itu.
Di sinilah letak pentingnya ideologisasi tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan menjadi target sekaligus semangat praksis pendidikan. Pencapaiannya bersifat imperatif dan dilakukan dengan semacam drilling tujuan, sebagai semangat ideologis yang harus diwujudkan. Ini perkara metodologi, agar praksis pendidikan tidak dipisahkan-tidak dialienasikan-dari tujuan pendidikan sendiri.
Akan halnya substansi tujuan pendidikan, kita memilikinya secara amat berlimpah, baik yang eksplisit telah tersurat maupun yang mengendap dalam keutamaan-keutamaan masyarakat kita.
Tantangan ganda
Telah sering dibahas, dunia pendidikan di masa kini menghadapi tantangan yang muncul dari proses pengglobalan masyarakat. Ini meliputi, misalnya, bagaimana “mengompromikan” visi humanistik dengan visi utilitarian pendidikan. Soal keberpihakan institusi-institusi pendidikan dalam aras polarisasi lapisan sosial-ekonomi masyarakat, masih menjadi isu penting perdebatan pelaku pendidikan.
Namun, dunia pendidikan masa kini juga menghadapi tantangan yang muncul dari gerakan kontra globalisasi, terutama atas dominasi sekelompok masyarakat dunia. Gerakan ini mengambil berbagai bentuk dan intensitas, tetapi kiranya teror bom memberi pesan paling jelas tentang misi gerakan yang fundamentalistik.
Dunia pendidikan ditantang adu strategi dan metode mengarahkan kesadaran individu atas pilihan-pilihan hidupnya. Adalah kegagalan dan ironi yang harus memancing refleksi jika mereka yang bertahun-tahun mengenyam pendidikan bervisi kemanusiaan, lalu memutuskan memilih menjadi pembunuh puluhan orang tak berdosa, hanya karena perjumpaan beberapa saat dengan mereka yang tidak mencintai kemanusiaan.
Oleh karena itu, pendidikan masa kini harus mampu menjawab sekaligus kedua tantangan yang muncul dari arus-arus globalisasi yang bertentangan itu. Penguasaan teknologi telah sering disebut sebagai salah satu jawaban atas tantangan globalisasi. Menurut saya, pemilihan strategi dan metode pendidikan merupakan jawaban atas tantangan gerakan kontra globalisasi.
Jika gerakan kontra globalisasi mampu mengarahkan para lulusan sekolah bervisi kemanusiaan menjadi pembunuh dengan semangat militan, maka mungkin pada sisi “menumbuhkan semangat militan” itulah sekolah bervisi kemanusiaan kita lemah. Karena itu, strategi dan metode pendidikan yang dapat menjawab tantangan gerakan kontra globalisasi adalah strategi dan metode pendidikan yang menumbuhkan militansi kemanusiaan.
Pendidikan bervisi kemanusiaan harus membuat orang mati-matian dalam sikap dan perilakunya berpihak pada nilai-nilai dan tujuan kemanusiaan. Ini dapat terwujud jika ada ideologisasi visi dan misi kemanusiaan dalam praksis pendidikan.
Dimuat di Kompas Online 18 Oktober 2004.
URL : http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0410/18/didaktika/1318184.htm

Jangan pernah terbawa arus globalisasi pendidikan yang menghancurkan identitas bangsa indonesia.
Comment by aliem85 — July 25, 2005 @ 3:27 pm
bagus
Comment by cucum — August 6, 2005 @ 10:47 pm
Kita tak harus membenci globalisasi tetapi sifat individualistis yang ada didalamnya yang mesti kita reduksi
Comment by qayuum Amri — September 3, 2005 @ 5:24 am
You are doing a wonderful thing here on the Internet. I wish you the very best. Kindest regards.
Comment by pacific poker tournament bonus — September 5, 2005 @ 4:35 am
testcomment435
Comment by testanchor902 — October 16, 2005 @ 2:09 am